Lagi-lagi
Kisruh UN dan Sistem Kuno di Era Komunikasi Canggih
Kisruh
yang kembali terjadi pada UN tahun ini tentu ada sebab musababnya. Salah
satu dari penyebab kisruhnya UN itu adalah karena dizaman era komunikasi yang
sudah begitu canggih seperti saat ini, Kementerian Pendidikan ternyata masih
memakai sistem kuno dalam membagikan soal UN.
Padahal
bila Kementerian Pendidikan mampu memanfaatkan Internet, e-mail; kasak kusuk
seperti itu sebenarnya tak perlu terjadi. Caranya diawali dengan menyimpan
soalan, jawaban dan model jawaban kosong (tinggal disilang) dalam satu software.
Setelah itu tetapkanlah hari pelaksanaan ujian. Sementara itu kepada
seluruh panitia ujian diseluruh Indonesia disuruh menyiapkan computer yang
tersambung dengan internet berikut mesin printernya. Kecuali sekolah yang
tidak terjangkau internet, soalnya mungkin harus dibagikan dengan cara lain.
Selanjutnya,
pada hari yang telah ditetapkan, jam 5 pagi seluruh panitia dinegeri ini
disuruh membuka soal, dan jawaban kosong dengan password yang diberikan saat
itu — melalui hp barangkali — dan langsung mem-print-nya sebanyak murid yang
akan mengikuti ujian. Sedangkan jawaban dari soalnya bisa dibuka kemudian
ketika ujian akan diperiksa.
Dengan
cara ini, Kementerian Pendidikan tidak perlu lagi repot-repot mencetak dan
membagikan kertas ujian dengan tingkat resiko bocor, terlambat dan kehilang
yang lebih besar. Tambahan lagi dana untuk mencetaknya tentulah cukup
besar pula. Lain halnya kalau sasaran utamanya memang untuk
mendapatkan proyek pencetakan, yaaa tentulah harus pakai sitem kuno.
Kalau
kita mau menghitung, yakinlah; biaya yang harus dikeluarkan untuk sistem
mencetak dan membagikan soal akan jauh lebih mahal bila dibandingkan dengan
memakai sistem internet.
Begitu
pula dengan E-KTP. Katanya sudah electronic. Tetapi strategi
tampilannya, datanya ternyata masih memakai sistem kuno pula. Betapa
tidak, katanya sudah E- KTP electronic komputerisasi; tetapi ketika mendata
peserta pemilu ternyata masih harus didata ulang lagi dengan usaha yang
berbelit-belit. Mestinya dengan adanya e-KTP, data pemilu tidaklah perlu
didata ulang lagi. Itu bisa tercapai bila strategi tampilan e-KTP-nya juga
dibuat canggih yang bisa di update secara
otomatis. Tidak seperti sekarang dimana tampilannya berbelit-belit,
mubazir tidak pula pakai no. hp untuk memudahkan menghubungi pemegang KTP
bersangkutan dia sedang berada dimana.
Mestinya
Kementerian Pendidikan dan Kementerian Dalam Negeri belajarlah kepada
Bank. Karena kita tahu urusan uang yang begitu berbelit-belit, rumit yang
dulunya butuh waktu bisa berhari-hari bahkan minggu; kini dengan bantuan
komputerisasi, urusan duitnya ternyata bisa dengan hitungan detik saja. Untuk
ambil dan mengirim uang bisa kapan saja di ATM dengan hitungan detik, bahkan
dari kamar mandipun kini bisa kirim uang dengan sms banking. Kenapa untuk
urusan UN kita masih terkubur dengan sistem kuno, dengan cara membagikan
langsung. Uih sedihnya aku dengan kolotnya bangsa ini.
Kalau
di Amerika kabarnya untuk sistem pemilu rakyatnya sudah memakai sistem
komputer. Tidak pakai istilah main coblos lagi. Mereka sudah main
tekan tombol saja.Menghemat sekian juta lembar kertas terbuang percuma. Karena
setiap tekan tombol, data pilihannya sudah langsung tersimpan didata KPU-nya. Jumlah
angkanya langsung bertambah setiap orang menekan tombol pilihannya dari mana saja. Sehingga
tipis sekali kemungkinan terjadinya manipulasi, karena setiap detik perubahan
angka bisa dimonitior dimana saja dan oleh siapa saja. Kapan ya bangsa
yang besar ini mampu melakukan seperti itu ?.
Bagaimana
mestinya efisiensi tampilan dari e-KTP yang dimaksudkan itu, sudah pernah saya
sampaikan kepada Dinas Kependudukan Indonesia dan Menteri Dalam Negeri
Indonesia pada tahun 2004 dulu. Tetapi mungkin belum sampai. Kalau
diperlukan saya bisa mengirimkannya kembali.

